Posted on

“Semakin tinggi padi, semakin merunduk”. Pepatah tersebut harusnya diimplementasikan oleh gamer berskill tinggi, terutama pro player DOTA 2. Jangan seperti Jacky “EternalEnvy” Mao yang nyaris kena ban 6 bulan karena sifat toxic ketika bermain, dan merugikan orang lain.

Envy memperoleh penilaian tingkah laku berdasarkan report atau laporan dari pemain lain bahwa dirinya telah merugikan beberapa orang pada sejumlah match. Envy, sebagai pemain profesional sekaligus veteran DOTA 2, seharusnya merasa malu karena merasa punya pembenaran atas perilaku seenaknya. Dia kerap tak menghiraukan “teguran” ringan yang telah Valve berikan, apalagi kritik dari sesama pemain.

Sampai pada akhirnya, tanggal 31 Agustus kemarin, dia mendapat peringatan ban 6 bulan dari DOTA 2. EE-sama akan terus mendapati pemberitahuan pada home screen DOTA 2 miliknya sampai dia dinyatakan cukup kualifikasi terkena ban 6 bulan penuh.

Berdasarkan jejak Twitter-nya, EE bersikap toxic dengan mencuri role pemain lain. Seperti kita ketahui, sistem MMR agak berbeda sekarang di mana rating terbagi menjadi core dan support. EE tampaknya tak mengindahkan kategori tersebut dan memilih seenaknya. Dia bahkan tak malu mengakui sudah bersikap toxic seperti meninggalkan match seenaknya sejak tahun 2014.

Tak heran makanya dia kini menerima begitu banyak report hingga cuma menyisakan satu poin overall conduct. EE mungkin ingin menjawab tantangan Matumbaman sebagai pemain pro pertama yang mendapat ban 6 bulan. Banyak juga fans DOTA 2 di Twitter yang menjagokan Envy sebagai pelopor penerima hukuman ini.

Mungkin bagi pemain yang berada di satu lingkaran MMR dan server dengan EE belum akan mendapati pemain ini bersikap nyebelin. EE diketahui punya beberapa akun smurf yang semuanya ia gunakan, tergantung situasi apakah dirinya mau serius atau sekedar toxic saja.

Apakah EE-sama baiknya di-ban dari DOTA 2 saja, Sobat Esports?